Jumat, 11 April 2008

Semangat Anang Ardiansyah


Anang Ardiansyah, nama itu begitu lekat di hatiku semenjak kecil. Aku mengenal nama ini, seperti aku mengenal lagu "Ampar-Ampar Pisang" dan "Paris Barantai" sejak kecil.

ADING BASTARI
Anang Ardiansyah

Lamah lambut jajantung panjang
Aduhai ading bastari
Bibir habang bakas manginang
Tanda ading nang baik budi

Ading sayang manang di alis
Aduhai bulan sahiris
Putih kuning maambun pupur
Kada tatinggal gawi di dapur

Adat asli jangan dibuang
Hilang akan kupakai jua
Paninggalan urang bahari
Kada lupa sampai mati

AMPAR-AMPAR PISANG
Anang Ardiansyah

Ampar-ampar pisang
Psangku balum masak
Masak sabigi dihurung bari-bari 2x
Manggalepak manggalepok
Dipatah kayu bengkok
Bengkok dimakan api apinya cancurupan 2x
Nang mana batis kutung dikitip bidawang 2x


BONTANG
S. Salfas

Rambai padi rambai palembang
Buahnya labat tangkainya panjang
Biar kucari sampai di Bontang
Barang mahirip kada saimbang

Ini lagu, lagunya Bontang 2x
Lagu gasan basasindiran 2x

Layar kena tamberang kencang
Hanyar ini sampai di Bontang
Baiar mahirip biar saimbang
Iman didada kahada goyang

KAKAMBAN HABANG
Anang Ardiansyah

Kambang culan sasangkutan kakamban habang 2x
Taungut rindu manangis mihat kakamban
Kakambang nang habang 2x

Hari lawan bulan
Rupa manis bapagar bintang
Kakamban nang habang tabawa bajalan
Aduhai kasian

Maramis di banyu dalam
Banyu dalam kacap-kacapan
Manangis di tangah malam
Kakambang nang habang nang jadi ingatan

SABAR MAHADANG
M.A. Barmawie

Laus janar sarai sarapun sarailah sarapun
Wadah mananam tangah halaman
Lawas banar sing takun takun ulunlah batakun
Kada talihat piang pang datang

Kanapa jua harinya hujan
Samakin labat manggantar hati
Rasa balisah ulun mahadang
Urang nang lalu sangkaan pian

Lamun hujan sudah baampih
Hati lalu banyanyi
Turun bapayung mahadang abang
Kada talihat pian pang datang


PANDAN ARUM
Hasal

Bajiku datang marimbun daun
Menguning amas baurai
Syarat runduk rundukan
Kursumangat banihku datang
Banihku intan si pandan harum
Limpahlah limpah ka kindai
Banihku si pandan harum
Kursumangat banihku intan


ANAK PIPIT
Taboneo

Anak pipit gugur matan di sarang
Ka tanah di sala rapun sarai
Umai-umai kada pang sampai hati
Malihat anak pipit kan cilaka

Kasihani anak pipit
Ambili anak pipit
Jangan biarkan anak pipit
Dalam sangsara

BANJARMASIN
Gatot Saputra

Kayuh baimbai ka hulu sungai
Manikmati pamandangan alam
Sungai nang panjang bakilau-kilau
Nang kaya amas intan parmata

Banjarmasin nang kaya jambrut hijau
Di sala butir mutiara
Malahirakan pahlawan bangsa
Bajuang mambela nagara

Kambang goyang lain si kambang barenteng
Kambang goyang tari nang lamah gamulai
Kambang barenteng sanggul kakamban habang
Siang malam hati jadi karindangan

KARANTIKA
Anang Ardiansyah

Du dudu du du
Bintang aras si karantika
Bintang sabuku bintang sabuku
Di kandang rakun

Du dudu du du
Kada maras hampian kaka
Diriku ini siang bapanas malam baambun

Pantun nasib marista diri
Adat lagu tingiran
Pantun nasib marista diri
Lagu-lagu di rantawan

Du du du du
Malam ini malam jumahat
Pasang palita pasang palita
Di atas pati
Du du du du
Tapuk bantal kursumangat
Harap batamu-harap batamu
di dalam mimpi

Selasa, 01 April 2008

Pendidikan Islam dalam "Ayat-ayat Cinta"

PENDIDIKAN ISLAM DALAM “AYAT-AYAT CINTA”
Oleh Alipir Budiman



Novel Ayat-ayat Cinta yang ditulis Habiburrahman el-Shirazy, seorang sarjana alumnus Universitas al-Azhar Cairo, memang fenomenal. Saya sendiri setelah selesai membaca novel itu, merasa ada sesuatu yang sesak di dalam dada. Sesuatu yang berbeda dari novel-novel lain. Tak salah kalau novel Ayat-ayat Cinta ini meledak di pasaran, dan lantas difilmkan. Tapi yang harus diingat, film dan novel itu berbeda. Ada kata hati yang tidak bisa divisualkan, sehingga tidak terwakili dalam film. Nah, justru di novel ini, perasaan hati bisa dikomunikasikan dengan jelas. Tak salah pula, kalau saya menilai, bahwa inilah novel terindah saat ini.
Subhanallah. Ayat-ayat Cinta tidak saja digemari di Indonesia, tapi juga di Malaysia dan Singapura. Samad Said, sastrawan Malaysia, sangat memuji novel ini. Ia mengatakan: Jika dulu pernah hadir "Atheis", "Perburuan", "Pulang", "Merahnya Merah" dan "Bumi Manusia", kini tampaknya gelora itu datang dalam bentuk Ayat-Ayat Cinta pula. Ternyata ia adalah sebuah novel yang sangat memujuk dan menghiburkan. Dengan bahasa yang sederhana mengalir, novel ini menghadapkan kita kepada mahasiswa Indonesia yang tidak saja tekun menangguk ilmu, malah berupaya mengisi kehidupan dengan penuh sabar. Ayat-Ayat Cinta pintar mengheret kita menjejaki — malah menghidu — perhubungan Fahri (Indonesia) dan Maria (Mesir) secara penuh mengajar, menghantar isyarat dan kebijaksanaan baru melalui perhubungan sopan antara insan dua negara.”.
Pembaca lain mengatakan “novel ini sudah lunyai bukan sahaja di kalangan pelajar-pelajar tahfiz atau sekolah pondok malahan mana-mana pembaca di seluruh negara. Dan benar seperti kata mereka. Novel ini boleh diangkat sebagai karya sastera Islam yang berjaya. Sungguh-sungguh terkesan dengan novel ini. Benar-benar saya rasa novel ini sewajarnya dimiliki sesiapa sahaja, sungguh-sungguh penulis menggambarkan segalanya. Pelbagai aspek turut disentuh, agama, cinta, keluarga. Jika anda berat pada agama, ini buku untuk anda. Jika anda suka dengan kisah cinta, ini juga untuk anda. Jika anda pentingkan keluarga, ini juga untuk anda. Jika rasa ingin menjelajah Mesir, ini buku untuk anda. Pendek kata, buku ini sesuai untuk semua golongan.”
Salah satu stasiun televisi Malaysia bahkan sampai mengundang Kang Abik, panggilan akrab penulis novel, datang untuk diwawancarai karena novelnya selalu ada di peringkat puncak sebagai buku laris di Malaysia.
Pencinta novel ini di Singapura lain lagi. Mereka beramai-ramai terbang ke Batam untuk menonton film ini yang sedang diputar di Batam awal Maret 2008 ini.

Wakil Melayu
Lagi-lagi Subhanallah. Novel ini, sadar atau tidak sadar, menjadi perekat kembali hubungan bangsa serumpun, terutama Indonesia – Malaysia. Sebagaimana kita ketahui, hubungan kedua negara ini agak memanas dengan berbagai situasi sejak lepasnya Sipadan Ligitan, dilanjutkan lagi dengan kasus Ambalat, pemukulan wasit Indonesia, pematenan batik Solo, sampai pengklaiman (lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo, adat dan budaya di Sumatera) sebagai milik Malaysia. Belum lagi persoalan TKI yang membuat imej mereka tentang Indonesia sebagai orang yang bodoh dan dungu. Mereka menghina orang Indonesia di sana dengan kata-kata “Indon”. Perang tulisan di internet pun tak terelakkan. Indonesia memplesetkan Malaysia dengan kata “Maling Sial”.
Tapi lihat, Ayat-ayat Cinta mampu merajut benang yang kusut ini. Sajian pendidikan Islam dalam perilaku sehari-hari selalu mewarnai novel ini dari awal sampai akhir. Aplikasi Islam dalam kehidupan betul-betul digarap dengan manis dengan tokoh Fahri yang nyaris tak ada celanya.
Oleh pembaca Malaysia, mereka menganggap Fahri – tokoh hayalan Kang Abik , sang pengarang– sebagai orang yang mewakili Melayu yang berhasil menempuh pendidikan di Mesir, serta berhasil mengamalkan ajaran dan sunnah Baginda Nabi SAW, sehingga dengan perilaku luhur itu berhasil menarik perhatian tiga gadis dari tiga bangsa berbeda. Nama baik Melayu sangat tercitrakan di novel ini, yang juga berarti nama baik Malaysia juga. Malaysia dalam beberapa komentarnya tentang novel itu banyak menyebut Fahri sebagai orang Melayu ketimbang Indonesia. Ini membuktikan bahwa Fahri dalam tokoh itu juga milik mereka yang notabene juga bangsa Melayu.
Novel ini akan tambah laris manis lagi jika seandainya dalam tokoh rekaan itu termuat juga tokoh dari Malaysia, misalnya saja jadi teman Fahri kuliah satu kamar, atau yang lainnya. Tentu hal ini punya kebanggaan tersendiri bagi Malaysia.
Bangsa Melayu sangat dekat, bahkan identik dengan Islam. Islam yang berbalut cerita digarap indah oleh Kang Abik. Indah karena dibalik cerita Mesir-Indonesianya, ceritanya adalah tentang kita. Tentang pergaulan sesama lelaki-perempuan, pergaulan sesama muslim-bukan muslim, adab murid dan guru, adab dan tanggungjawab sebagai seorang lelaki, perempuan, anak, suami, isteri, kawan, kakak, kekasih, tunangan, manusia dan paling penting sebagai hamba Allah.
Kang Abik, juga mengingatkan kita akan bahwa setiap muslim itu tanggungjawab sebagai pendakwah. Banyak teori, hukum, perintah dan larangan yang ada dalam Islam diaplikasikan dengan baik dalam jalan cerita ini. Pengarang betul-betul menjadikan Islam sebagai bagian dari kehidupan dalam karakternya. Islam juga mengatur bagaimana memandang cinta. Novel ini banyak mengambil ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebut tentang cinta. Ayat itu juga merujuk kepada tanda, kekuatan cinta.

Pendidikan Islam
Tidak heran, kalau novel ini merupakan sastra Islami yang hebat. Tidak kurang dari sepuluh kitab yang dijadikan rujukan dalam menulis novel ini. Kang Abik betul-betul memberikan pendidikan ke-Islaman dengan novel sebagai media dan Fahri sebagai tokohnya.
Pendidikan Islam yang dapat kita jumpai dalam novel ini adalah pertama, karakter dan perilaku Fahri banyak mengamalkan sunnah Rasulullah. Misalnya, apabila Fahri hendak menjernihkan suasana pertengkaran, ia tidak serta-merta mengeluarkan hadits “La Taghdab”. Sebaliknya, Fahri mengajak orang yang sedang marah itu agar bersalawat ke atas Nabi SAW dan redalah amarah mereka.
Kedua, Fahri juga teguh dengan prinsip Islam. Contohnya, Fahri sangat menjaga hubungan dengan yang bukan mahram. Beliau enggan bersalaman dengan wanita Amerika dan dijelaskan pula sebabnya menurut hukum Islam. Beliau juga menegur sahabatnya yang membiarkan beliau ditemani keseorangan oleh Maria, seorang wanita Kristian, semasa beliau terlantar di hospital.
Ketiga, Fahri juga menerima saja wanita yang telah dicalonkan oleh gurunya untuk dijadikan teman hidup. Ia tidak tahu siapa gerangan wanita itu. Ia hanya diterangkan bahwa calonnya adalah seorang muslimah yang salehah dan sanggup ikut sama berjuang dalam dakwah. Fahri diberi foto wajah calonnya, tetapi mengambil keputusan untuk ridha dan tawakkal saja.
Keempat, Fahri selalu menjaga kedisiplinan waktu, meskipun ia orang Melayu (Indonesia). Sebagaimana sudah jadi kebiasaan, orang Melayu tidak tepat dalm waktu.
Kelima, Fahri gigih menuntut ilmu. Ia terpaksa menempuh perjalanan yang jauh untuk menuntut ilmu al-Quran dalam suasana matahari yang terik. Ia turut juga rajin berdakwah dengan menterjemah buku dan menjawab persoalan tentang Islam kepada seorang wartawan Amerika sehingga membawa kepada keIslaman wartawan tersebut. Beliau sangat gigih sehingga jatuh sakit sampai akhirnya terpaksa dimasukkan ke rumah sakit akibat terjemur terlalu lama di bawah mentari.

Banyak Hikmah
Sungguh rugi rasanya, seandainya pembaca tidak mengenal siapa saja di balik novel Ayat-ayat Cinta yang sangat hebat ini, dan terjual lebih dari 300 ribu eksemplar.
Bercerita tentang. Fahri, pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusiasme kecuali satu: menikah. Kenapa? Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan mahluk bernama perempuan.
Maria Girgis, tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al-Qur’an dan Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta yang hanya tercurah dalam diary saja. Lalu ada Nurul, anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak. Setelah itu ada Noura, tetangga yang selalu disiksa ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Sayang hanya empati saja. Tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya.

Terakhir muncullah Aisha, si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.
Ayat-Ayat Cinta, sebuah novel pembangun jiwa, memang benar-benar membangunkan jiwa-jiwa yang haus akan nilai-nilai religi, dan haus akan suasana hikmah Illahi. Ketika kita merasuk ke dalam cerita itu, bagi orang yang halus hatinya, bagi orang yang kuat perasaannya, pasti akan terbawa dalam keharuan, kemudian tak terasa hangat air mata mengalir lembut di pipi. Saya yakin, siapapun yang pernah membaca buku ini mengalaminya. Yakinlah, banyak hikmah yang dapat dipetik dalam cerita ini.

Alipir Budiman, S.Pd
e_mail : affrains.budiman@yahoo.co.id
Guru MTs Negeri 2 Gambut Kab. Banjar

Rabu, 06 Februari 2008

Aku Menulis Lagi

Inilah tekadku. Ingin menulis lagi, meski keadaanku sudah berbeda dengan di saat aku produktif sekitar tahun 90-an. Aku telah memasuki dunia kerja yang terlalu banyak menyita hari-hariku. Begitu menjemukan sekaligus melelahkan. Selain sebagai guru, aku juga bekerja di warung makanan.


Di warung inilah menyebabkan matinya kreativitas yang sejak lama kubina. Bibit yang semestinya selalu disiram dan dipelihara, ternyata harus layu sebelum akhirnya terkubur. Ah, menyedihkan memang.


Meski aku menyadarinya, toh pekerjaan di warung tetap rutin kujalani. Dari sinilah, aku bisa merasakan segalanya. Kehidupan di rumah tangga terasa berubah. Meski hanya mendapat laba 40 jutaan sebulan, itu jauh lebih baik dibandingkan gaji sebagai seorang guru PNS yang hanya mendapat 1,8 juta sebulan.


Inilah problem guru-guru di sekolah. Gaji yang ada tidak mencukupi untuk keperluan yang lebih besar. Hanya cukup untuk sebuah kehidupan yang sederhana. Terlalu menyedihkan memang. Di saat hasrat untuk punya kehidupan yang lebih baik begitu menggelora, tapi kita tidak mampu apa-apa. Beli rumah tidak sanggup. Kalaupun sanggup, itu hanya type 36 dengan kategori Rumah Sangat Sederhana dengan masa cicilan 10 hingga 15 tahun. Ingin beli mobil, itu impian yang tidak mungkin. Gaji 1,6 juta perbulan mana mungkin ingin membayar angsuran mobil yang mencapai 5 jutaan. Paling-paling cukup untuk membayar uang muka sebuah sepeda motor dengan angsuran ringan. Mau beli televisi 29 inch, spring bed yang mahal, atau sofa yang berkualitas, harus menabung beberapa bulan.


Tidak mengherankan, kalau guru identik dengan kehidupan sederhana. Lalu, haruskan teorema seperti itu diterima? Kita hanya pasrah dengan keadaan tersebut?


Aku, termasuk orang yang membantah pernyataan tersebut. Dan itu sudah kubuktikan. Pekerjaan di warung bisa memberikan pendapatan yang lebih besar dari gaji kita sebagai guru. Bagiku, orang yang hanya mengharap gaji dari pemerintah, tanpa memikirkan bidang usaha lain yang bisa digarap, adalah guru yang tidak punya kreativitas dan miskin inovasi. Mereka miskin dengan gaji pas-pasan, karena mereka tidak kreatif.


Hanya saja, resiko besar yang dihadapi dengan adanya pertumbuhan usaha, adalah pudarnya jiwa intelektual seseorang. Dunia intelektual yang dulu pernah jadi dunia di hati, kini semakin hilang. Kreativitas dalam bidang bisnis nyaris mematikan kreativitas dalam bidang yang lain.


Menulis, dunia yang dulu kugeluti, terasa semakin jauh. Komputer yang dulu setiap hari menemani, kini seperti menjadi barang pajangan yang hanya dipakai jika perlu. Kendati ide-ide cemerlang begitu banyak bermunculan dalam otak, namun pikiran tidak sanggup lagi menuangkannya ke dalam tulisan.


Terkadang muncul rasa malu, ketika ada yang masih mengingat namaku. Padahal nama itu sudah lama tenggelam. Seperti saat aku memperpanjang KIR mobil, tanpa sengaja, Rustam Effendi, staf Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin, menanyakanku: “Alipir, kenapa tidak menulis lagi?”. “Dulu aku sering membaca tulisan-tulisanmu,” kata beliau lagi.


Sebenarnya, hati ini masih ingin menulis. Jiwa ini masih seperti dulu. Suka menulis. Karenanya, mulai hari ini, kutanamkan niat dan kumulai lagi dengan menulis kalimat, bahwa “aku menulis lagi!”.


Menjadi Guru Tanpa Merasa Terhina

Dewasa ini, profesi sebagai seorang guru bukan lagi dianggap sebagai profesi yang menjanjikan, apalagi menggiurkan. Guru dalam kehidupan masyarakat era baru ini identik dengan kehidupan sederhana. Lebih detail lagi, miskin dan pas-pasan. Kenaikan gaji yang diusahakan pemerintah tidak mampu mengimbangi harga barang yang melambung tinggi pasca kenaikan BBM. Disaat pemerintah banyak menaruh harapan besar di pundak para guru, seperti peningkatan dan perbaikan mutu output dengan standar kompetensinya, disaat itu pula para guru tengah bergulat memperjuangkan hidupnya. Dua hal yang sama sekali tidak bersinergi. Akibatnya, guru selalu dikebiri.

Dalam retorika, menyandang predikat sebagai guru adalah pekerjaan yang sangat mulia dan terhormat. Guru, yang selalu digugu dan ditiru. Tingkah lakunya bak malaikat yang tidak boleh salah, padahal guru juga adalah manusia. Menjadi guru harus mempunyai berbagai macam kompetensi, yang dengan kompetensi itu akan meningkatkan kualitas anak didik.

Tapi dalam kenyataan, guru bukan lagi sosok yang bisa digugu, apalagi ditiru. Dengan kondisi sederhana, miskin, dan pas-pasan tersebut, mana mungkin siswa dan orangtua siswa ingin meniru sang guru. Lihat saja, banyak siswa sekarang yang sudah tidak lagi bersikap sopan dan hormat pada guru, bahkan cenderung melecehkan bila guru punya banyak aturan dan tata tertib.

Kenyataan terhadap kondisi guru yang demikian diamini oleh para guru sendiri. Unjuk rasa ribuan guru beberapa waktu lalu menuntut perbaikan finansial, serta beberapa artikel di media massa yang ditulis oleh para guru, mengisahkan tentang kesedihan nasib guru yang selalu dikebiri. Guru yang selalu dilecehkan dalam hal finansial, tetapi selalu dituntut dalam hal prestasi. Sampai kadang-kadang dari beberapa tulisan mengenai nasib guru, ada yang berkonklusi, bahwa guru adalah orang yang malang. Gajinya kecil tapi beritanya besar.

Zaman Megawati, tunjangan guru dinaikkan 125 %. Banyak orang mengira, gaji guru naik 125%. Tetapi apa lacur, ternyata itu hanya naik 125% dari Rp. 55.000 (tunjangan guru). Kenaikan itu tetap tidak sanggup mendongkrak pendapatan guru, karena sejak itu pula, sudah terjadi kenaikan harga.

Guru, sedemikian malangkah menjalani profesi ini? Tidak usah bertanya lagi soal kualitas. Mau menyamakan dengan negara lain, it’s impossible. Karenanya, bila guru tidak kreatif, tidak punya dedikasi yang lebih baik, tidak akan ada lagi yang heran.


Hebat di Kelas, Kalah di Masyarakat

Mana kehebatan seorang guru? Ternyata, guru hanya hebat berteori kala berada di dalam kelas. Bisa bercerita tentang kemajuan zaman, kemajuan teknologi, dan teori-teori ekonomi untuk melatih kemandirian murid serta membekalinya dengan kecakapan hidup (life skills).

Tetapi ketika berada di luar kelas, guru adalah orang yang terhempas dengan arus zaman, tergilas roda kehidupan yang semakin modern. Hidup sepertinya sudah tidak berdaya lagi ketika menghadapi gempuran kekuatan asing. Gaji yang didapat tak bisa mengejar kemajuan zaman dan kemajuan teknologi. Teori-teori ekonomi yang dikisahkan di hadapan murid-muridnya juga tak mampu diaplikasikan, bahkan justru keteter menjalankan roda perekonomian dalam rumah tangganya sendiri.

Inilah problem guru-guru kita. Gaji yang ada tidak mencukupi untuk keperluan yang lebih besar. Hanya cukup untuk sebuah kehidupan yang sederhana. Terlalu menyedihkan memang. Di saat hasrat untuk punya kehidupan yang lebih baik begitu menggelora, tapi kita tidak mampu apa-apa. Beli rumah tidak sanggup. Kalaupun sanggup, paling-paling dengan type sederhana dan masa cicilan 10 hingga 15 tahun. Ingin beli mobil, itu impian yang tidak mungkin. Gaji yang diterima mana mungkin membayar angsuran mobil yang mencapai 5 jutaan dengan uang muka puluhan juta rupiah. Paling-paling cukup untuk membayar uang muka sebuah sepeda motor dengan angsuran ringan. Mau beli televisi 54 inch, spring bed yang mahal, atau sofa yang berkualitas, harus menabung beberapa bulan.

Sesedih itukah seorang guru menghadapi kekalahannya di mata masyarakat? Lalu, haruskah teorema seperti itu diterima? Apakah guru hanya pasrah dengan keadaan tersebut?


Kurang Kreatif

Sebenarnya, guru-guru kita hanya kurang kreatif. Pola hidup yang bergantung pada gaji yang diterima setiap bulan, adalah pola yang tidak mendidik dan tidak membangun kreativitas. Pola pikir sebelum memilih profesi guru pun, juga memandang kepada enaknya dapat gaji tanpa harus memiliki resiko dan modal.

Etos kerja seperti ini yang sering menimbulkan masalah.

Ketidakkreativan di luar sekolah kadang-kadang berimbas ke dalam lingkungan sekolah. Guru jadi malas atau tidak bersemangat mengajar. Persoalan di rumah tangga kadang-kadang terlampiaskan pada murid-murid di dalam kelas. Masalah sepele di dalam kelas bisa jadi masalah besar. Belum lagi dengan masalah keuangan. Lalu muncul guru yang memaksa menjual buku ke siswa, penyelewengan dana OSIS oleh guru, perebutan hak pengelolaan kantin sekolah, pemangkasan kegiatan-kegiatan siswa, minta jatah dari hasil sumbangan pihak ketiga, dan lain sebagainya. Masalahnya sepele, hanya memperebutkan uang yang tidak terlalu besar nilainya.


Berpikir Positif

Mengatasi hal yang sampai sekarang terus menjadi problem para guru tersebut, ada baiknya kita mulai berpikir positif.

Mulailah dari usaha untuk tidak mempermasalahkan masalah, melainkan mencari solusi atas masalah. Kegagalan kita adalah sebuah masa lalu, dan cukup untuk kita jadikan kenangan, bukan untuk diratapi. Asumsi masyarakat yang negatif tentang guru, dan itu kita akui, dijadikan cambuk untuk menatap masa depan. Mulailah dari hal yang sederhana.

Bagi seorang guru, apalagi guru mata pelajaran, waktu luang yang tersedia sangat banyak. Misalnya, seorang guru mengajar 18 jam dalam seminggu. Kalau kita hitung 1 jam pelajaran sama dengan 45 menit, maka 18 jam pelajaran hanya membutuhkan waktu 13,5 jam dalam seminggu. Waktu yang sangat sedikit itu sangat tidak sebanding dengan sisa waktu kita yang mencapai 154,5 jam dalam seminggu.

Apa saja yang kita lakukan dengan sisa waktu tersebut? Sisa waktu itu sebenarnya bisa digunakan untuk hal-hal lain yang bermanfaat, setidaknya buat menambah pendapatan selain mengharap gaji. Usaha tersebut antara lain membuka servis elektronik, sablon, warung makan, berjualan, menjahit, komputer, bikin kue, mengelola bimbingan belajar, dan lain sebagainya.

Salah seorang contoh guru kreatif bisa dikemukakan di sini. Ahmadi, seorang sarjana Pendidikan Sejarah FKIP Unlam, merintis usaha sablon untuk kegiatan di luar kegiatan sekolah. Keberhasilannya dalam usaha ini telah mengantarnya memiliki rumah sendiri, punya motor, beli mobil, membantu orangtua, dan fasilitas lain. Income setiap bulan mencapai empat kali lipat dari gaji yang diterimanya sebagai seorang guru di MTsN Model Mulawarman Banjarmasin.

Dengan gaji sebesar itu, Ahmadi bisa mengantisipasi resiko dalam mengatur pengeluaran sebagai seorang guru. Dia mengaku tidak terbebani dengan gaji yang diterimanya di sekolah, dan bekerja di sekolahpun bisa dengan lega hati.


Menghapus Paradigma

Dengan melakukan usaha tersebut, setidaknya seorang guru akan berusaha menghapus paradigma dalam masyarakat, bahwa guru identik dengan kehidupan miskin. Seorang guru harus punya rasa percaya diri yang kuat, bisa berjalan dengan kepala tegak tanpa harus merasa malu.

Memang, perlu perjuangan untuk mencapai semua itu. Tapi bila kita mampu memperjuangkannya, itulah kesuksesan kita. Memang, tolok ukur kita bukan pada sisi materi. Tapi, keberhasilan kita mencapai cita-cita itulah sebenarnya kesuksesan yang saya maksud.

Untuk mencapai kesuksesan, guru perlu bangkit dan mengubah ketergantungan terhadap gaji sebagai seorang guru. Kita harus menciptakan pekerjaan lain, dan itu kita harus berani mengambil resiko.

Keberanian untuk mengambil resiko dalam memulai usaha, untuk bangkrut atau sukses harus diupayakan menjadi hal yang biasa sehingga menjadi attitude yang wajar dalam hidup ini. Ingat, merintis jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Namanya juga sedang membangun passive income. Kalau sudah mempunyai passive income yang bagus, guru bisa lebih tenang bekerja di sekolah. Konsentrasi tidak harus terganggu oleh masalah gaji yang dirasa kecil. Pemerintah tugasnya bukanlah menyejahterakan guru, tetapi hanya memberikan imbalan yang pantas sesuai dengan job kita.

Sukses hidup adalah suatu pilihan, komitmen pribadi dan bukan karena faktor kebetulan atau nasib. Sukses bukan sebuah benda yang jatuh dari langit dan bisa kita pungut begitu saja, tetapi diperoleh dari strategi, perjuangan, pengorbanan, dan pergumulan yang tidak kenal menyerah.

Kalau sukses sudah di tangan, kita tinggal membina siswa di kelas tanpa ada yang membebani. Kita bisa menjadi guru yang lebih kreatif yang tidak hanya bisa berteori. Selain itu, kita menjadi guru yang bermartabat di mata masyarakat. Berdiri dengan kepala tegak, dan berjalan dengan mantap penuh rasa percaya diri.

Bila semua itu terpenuhi, masihkah kita merasa menjadi guru yang terhina?

Lebih Dekat dengan Ali

Semasa mahasiswa, banyak yang mengenal sosok yang satu ini sebagai seorang penulis di media massa. Tulisannya sering menghiasi halaman opini Banjarmasin Post, Dinamika Berita/Kalimantan Pos, Surya, Jawa Pos, dan lain-lain. Dia juga sering menulis cerita anak-anak dan cerita lucu yang dimuat di Majalah Ananda Jakarta. Selain menulis artikel, dia juga menulis cerita dan puisi. Bahkan, cerbernya pernah dimuat selama berbulan-bulan di sebuah media massa. Tapi, siapa sangka, dia justru kini malah menggeluti bisnis makanan.

Alipir Budiman, demikian nama pria jebolan matematika FKIP Unlam ini, telah menjatuhkan pilihan berkariernya pada dunia makanan, dan menu Nasi Itik Khas Gambut menjadi andalannya. Kenapa memilih menu khas Gambut?

Ide ini bermula dari seringnya dia melewati daerah Gambut, karena tugasnya sebagai seorang guru matematika di MTsN 2 Gambut. Hampir sepanjang jalan di sekitar Gambut dari pagi hingga malam selalu disesaki dengan orang yang ingin makan nasi itik. Dan, Alipir sendiri termasuk dari para penikmat masakan tersebut. Lantas, muncul ide untuk membuka usaha sejenis di daerah keramaian tersebut

Prospeknya bagus. Lihat saja, hari Minggu dan hari libur Gambut selalu diserbu dengan penikmat nasi itik. Kenapa kita tidak mencoba?” katanya.

Berbekal dengan kemauan keras dan modal pas-pasan, Pak Ali, demikian bapak tiga anak ini biasa dipanggil, mulai membuka usaha nasi itiknya dengan menyewa sebidang tanah kecil di kawasan A. Yani Km 14. “Modal awalnya sebagian dari kantong sendiri, sebagian lagi dari uang tabungan siswa,” kenangnya.

Mula-mula, dagangannya sepi pembeli. Sehari saja tak mampu menghabiskan 5 liter nasi. Sementara warung-warung yang berada di sekitarnya, selalu disesaki dengan pembeli. Namun, berkat ketekunan dan kesabaran Pak Ali dan istrinya, pada bulan ketujuh, di saat mereka hampir kapok berjualan, pelanggan mulai berdatangan. Sekarang, dalam sehari, Warung Barokah (WBG) yang dikelolanya, menghabiskan beras 40 – 70 liter perharinya.


Buka Cabang

Karena ingin terus eksis dalam dunia makanan, tanggal 10 Agustus 2006 yang lalu, Pak Ali membuka cabang di Banjarmasin, yani Nasi Itik Gambut yang berlokasi di Jl. A. Yani Km 3,5 Samping Mesjid Baiturrahim .

Kembali muncul rasa ketar-ketir, jangan-jangan masakannya tidak diterima pasar. Sekadar diketahui, di Banjarmasin, jenis masakan yang disukai masyarakat adalah jenis bakaran, gorengan. Sementara Warung Barokah, andalannya adalah menu masak habang yang menjadi ikon Kota Gambut. Wajar kalau rasa ragu itu muncul.

Kekhawatiran itu ternyata tidak muncul sama sekali, justru harapan untuk tampil lebih baik semakin memberi harapan baru. Warung baru itu ternyata langsung diserbu pembeli, sehingga hari pertama berjualan, karyawannya yang berjumlah 10 orang kalang-kabut untuk menyediakan kebutuhan makanan di warung.

“Ini adalah permulaan yang sungguh membahagiakan. Semua masakan yang kami jual ludes semua diserbu pembeli. Pembeli bahkan sampai antri di luar. Sejak hari itu, kami merasa bahwa warung kami telah langsung diperhitungkan orang sebagai salah satu kompetitor bagi rumah makan yang ada di sekitarnya.” akunya.

Sekarang, kalau pembaca kebetulan lewat di bilangan Jalan A. Yani Km 3,5 Seberang Pangkalan TNI Angkatan Laut, singgahlah ke Warung Nasi Itik Gambut. Soal harga, dijamin masih murah dibanding yang lain. Soal rasa, warung ini juga punya cita rasa khas. Selain nasi itik, juga tersedia menu masak habang yang lain, seperti ayam, haruan, telur, hati, daging, dan dendeng. Juga bila siang hari, ayam dan itik goreng lalapan pun tak kalah lezatnya. Malam hari, sop dan soto itik juga dapat dinikmati.

Dalam sehari, WBG mampu menghabiskan beras 120 – 159 liter. Suatu ukuran yang cukup fantantis bagi sebuah warung kecil.


Obsesi

Sebenarnya ada obsesi lain yang dimiliki Pak Ali dibalik bisnis ini. Dia ingin mengangkat harkat guru di mata masyarakat. Selama ini, katanya, guru identik dengan kehidupan sederhana.Kenaikan gaji yang diusahakan pemerintah tidak mampu mengimbangi harga barang yang melambung tinggi pasca kenaikan BBM. Disaat pemerintah banyak menaruh harapan besar di pundak para guru, disaat itu pula para guru tengah bergulat memperjuangkan hidupnya. Guru yang selalu dilecehkan dalam hal finansial, tetapi selalu dituntut dalam hal prestasi.

Pak Ali ingin membuktikan, bahwa menjadi gurupun tidak halangan untuk mengubah impian menjadi kenyataan. Mau beli mobil, rumah, atau apapun, Insya Allah akan tercapai. Dengan usahanya ini, dia mengharapkan menjadi motivasi bagi guru-guru lain untuk terus memperbaiki ekonominya sendiri tanpa harus bergantung kepada pemerintah.

Dengan melakukan usaha tersebut, setidaknya seorang guru akan berusaha menghapus paradigma dalam masyarakat, bahwa guru identik dengan kehidupan miskin. Seorang guru harus punya rasa percaya diri yang kuat, bisa berjalan dengan kepala tegak tanpa harus merasa malu.

Memang, perlu perjuangan untuk mencapai semua itu. Tapi bila kita mampu memperjuangkannya, itulah kesuksesan kita. Memang, tolok ukur kita bukan pada sisi materi. Tapi, keberhasilan kita mencapai cita-cita itulah sebenarnya kesuksesan yang dimaksud.

Untuk mencapai kesuksesan, guru perlu bangkit dan mengubah ketergantungan terhadap gaji sebagai seorang guru. Kita harus menciptakan pekerjaan lain, dan itu kita harus berani mengambil resiko.

Dan, Alipir sudah membuktikannya. Betul juga. Siapa bilang menjadi guru enggak bisa kaya?


Selasa, 05 Februari 2008

Kelezatan Nasi Itik Gambut Warung Barokah

Jika Anda berkesempatan ke Banjarmasin, tentu tak lengkap rasanya jika tidak mencicipi makanan khas Banjar. Dikatakan sebagai makanan khas, tentu saja karena memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan daerah lain. Menu khas Banjar antara lain Soto Banjar yang terkenal ). dimana-mana, Ketupat Kandangan, rimpi Binuang, kelelepon Martapura, nasi itik gambut.
Wah, bicara nasi itik gambut, Warung Barokah jagonya. Warung ini punya banyak cabang. Cabang pertama di Jalan A. Yani Km 14 (Samping Kompleks Luthfia) Gambut. Ini pas bagi Anda yang baru datang dari bandara (atau luar kota), Anda tinggal turun dari mobil, parkir sebentar, beli dan langsung bawa pulang nasi bungkus itik gambut. Harganya relatif murah, cuman Rp. 7.000 per bungkus. Menggunakan bungkus daun pisang (wuih.... biar nasinya harum..........). Cabang kedua, Jalan A. Yani Km 3,5 (Seberang TNI Angkatan Laut) Banjarmasin. Nah, ini diperuntukkan bagi Anda warga Banjarmasin yang tak ingin jauh-jauh ke Gambut hanya untuk mencicipi nasi itik. Istimewanya, menu di sini lebih komplit dari semua warung nasi itik yang ada di Gambut. Selain bumbu masak habang, ditambah dengan cah sayur, tahu tempe, mie, dan wow... empal jagung. Cuma harganya naik dikit , Rp. 8.000 - Rp. 9.000. Wong itiknya gede-gede. Tempatnya enak, persis di jalan protokol. Cabang ketiga, Jalan A. Yani Km 13.9 Gambut (wah... koq Gambut lagi). Ini dimaksudkan bagi Anda yang pengen ke luar kota ato pengen ke Bandara, bisa langsung mampir ke sini.
TAPI UFF.... WARUNG BAROKAH GAMBUT bukan WARUNG TENDA BIRU ya. Warung Barokah punya rasa yang berbeda.
Bahan-bahan yang digunakan adalah bahan dan bumbu dengan kualitas nomor satu. Selalu dan selalu ingin memanjakan lidah pelanggan.